Ilmuwan berhasil mengembangkan sel-sel manusia di dalam embrio hewan—dalam kasus ini, babi—yang menjadi inangnya.
Embrio babi ini disuntik dengan sel manusia di awal perkembangannya dan tumbuh hingga berusia empat minggu. (Juan Carlos Izppisua Belmonte/Salk Institute)
Prestasi
gemilang—kalau tidak dikatakan kontroversial—diraih oleh para ilmuwan.
Untuk pertama kalinya, mereka berhasil membuat hibrida manusia dan
hewan. Proyek ini membuktikan bahwa sel-sel manusia dapat diperkenalkan
pada organisme selain manusia, bertahan hidup, dan bahkan tumbuh di
dalam hewan yang menjadi inangnya, dalam kasus ini, babi.
Kemajuan
biomedis ini sudah lama menjadi mimpi sekaligus dilema bagi para
ilmuwan yang berharap dapat mengatasi kekurangan donor organ.
Setiap sepuluh menit, satu orang ditambahkan dalam daftar tunggu
nasional untuk mendapatkan transplantasi organ. Setiap hari, 22 orang
dalam daftar tersebut meninggal dunia tanpa organ yang mereka butuhkan.
Ketimbang bergantung pada donor dari para dermawan, bagaimana jika kita
dapat menumbuhkan organ tertentu di dalam tubuh hewan?
Angan-angan
itu satu langkah lebih dekat dengan kenyataan. Tim ilmuwan
internasional yang dipimpin oleh Salk Institute melaporkan dalam jurnal Cell. Tim membuat chimera, organisme yang mengandung sel-sel dari dua spesies berbeda.
“Pada masa peradaban kuno, chimera dikaitkan dengan Tuhan,” katanya, dan leluhur kita berpikir “bentuk chimera dapat menjaga manusia.”
Nama chimera diambil dari makhluk legendaris dari mitologi Yunani yang merupakan gabungan dari tiga hewan: ular, kambing, dan singa. Berbadan
kambing, berekor ular, dan berkepala singa, namun beberapa kisah
mengatakan kepalanya terdiri dari dua hewan (kambing dan singa), atau
gabungan dari ketiga hewan tersebut. Chimera—khimaira dalam Bahasa Indonesia—mampu menyemburkan api dari hidung dan mulutnya.
Di
masa lalu, chimera manusia dan hewan berada di luar jangkauan.
Eksperimen semacam itu tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan dana
publik di Amerika Serikat (sejauh ini, Salk Institute mengandalkan donor
privat untuk proyek chimera). Opini publik juga telah menghambat
pembuatan organisme yang setengah manusia dan setengah hewan.
Tetapi bagi pemimpin utama studi, Jun Wu dari Salk Institute, kita
hanya perlu memandang makhluk mistis chimera dengan sudut pandang lain.
“Pada
masa peradaban kuno, chimera dikaitkan dengan Tuhan,” katanya, dan
leluhur kita berpikir “bentuk chimera dapat menjaga manusia.” Dalam arti
itulah tim berharap hibrida manusia-hewan itu suatu hari akan
dilakukan.
Membuat chimera
Ada dua cara
untuk membuat chimera. Pertama, dengan mengenalkan organ satu hewan ke
hewan lainnya—rencana yang berisiko, karena sistem imun organisme inang
mungkin akan menolak organ baru tersebut.
Metode lainnya yaitu
dengan memulai pada level embrio, mengenalkan sel-sel satu hewan kepada
embrio hewan lainnya dan membiarkan tumbuh bersama menjadi hibrida.
Memang
terdengar aneh, tetapi itulah cara cerdik yang pada akhirnya dapat
memecahkan sejumlah masalah biologis yang menjengkelkan pada organ yang
tumbuh di laboratorium.
Ketika para ilmuwan menemukan sel-sel induk, sel master yang bisa
memproduksi jaringan tubuh jenis apa pun, tampaknya ada janji ilmiah
yang tak terbatas. Tetapi memastikan sel-sel itu tumbuh menjadi jaringan
dan organ yang tepat, sungguh sulit.
Sel-sel harus bertahan di
cawan petri. Para ilmuwan harus menggunakan perancah untuk memastikan
organ tumbuh dengan bentuk yang tepat. Sering kali, para pasien harus
mengalami prosedur invasif dan menyakitkan untuk mengambil jaringan yang
diperlukan dalam proses ini.
Awalnya, Juan Carlos Izppisua
Belmonte, profesor di Laboratorium Ekspresi Gen Salk Institute berpikir
konsep menggunakan embrio inang untuk menumbuhkan organ cukup sederhana.
Namun, kenyataannya butuh waktu empat tahun bagi Belmonte dan lebih
dari 40 kolaborator untuk mengetahui bagaimana membuat chimera
manusia-hewan.
Untuk melakukannya, mereka mengacu pada penelitian chimera sebelumnya, yang dilakukan pada tikus dan mencit.
Para ilmuwan lain telah mengetahui bagaimana cara menumbuhkan
jaringan pankreas mencit di dalam tubuh tikus. Tim tersebut kemudian
mengumumkan bahwa pankreas mencit yang ditempatkan di dalam tubuh tikus
berhasil mengobati diabetes ketika organ sehat itu ditransplantasikan
pada mencit yang sakit.

Chimera berusia satu tahun ini tumbuh dari embrio mencit yang disuntikkan sel induk tikus. (Juan Carlos Izppisua Belmonte/Salk Institute)
Kelompok
yang dipimpin Salk Institute mengembangkan konsep selangkah lebih maju,
dengan menggunakan peralatan editing genom yang disebut CRISPR untuk
mengedit blastokista—embrio awal—mencit. Mereka menghapus gen-gen yang
dibutuhkan mencit untuk menumbuhkan organ tertentu. Ketika mereka
memperkenalkan sel induk tikus yang dapat memproduksi organ tersebut,
sel-sel itu pun berkembang.
Tim menemukan bahwa untuk mengenalkan sel-sel manusia pada babi tanpa membuatnya mati, mereka harus melakukannya pada waktu yang tepat.
Mencit
hasil percobaan ini bisa bertahan hidup hingga dewasa. Beberapa bahkan
bisa menumbuhkan kantung empedu, yang bukan bagian tubuh spesies ini
selama 18 juta tahun.
Risiko penolakan
Tim
kemudian mengambil sel induk dari tikus dan menginjeksikan pada
blastokista babi. Percobaan ini gagal. Tidak mengejutkan, sebab tikus
dan babi memiliki waktu kehamilan dan evolusi leluhur yang berbeda
drastis.
Namun, babi memiliki kesamaan penting dengan manusia. Meskipun waktu
kehamilan mereka relatif lebih singkat, tetapi organ-organ mereka mirip
seperti kita.
Bukan berarti kesamaan tersebut membuat tugas ini
menjadi mudah. Tim menemukan bahwa untuk mengenalkan sel-sel manusia
pada babi tanpa membuatnya mati, mereka harus melakukannya pada waktu
yang tepat.
“Kami mencoba tiga jenis sel-sel manusia yang berbeda,
terutama yang mewakili tiga waktu berbeda dalam proses perkembangan,”
jelas Jun Wu.
Melalui proses trial and error,
mereka belajar bahwa sel-sel pluripotent naïf—sel induk dengan potensi
tak terbatas—tidak bertahan sebaik sel-sel yang telah sedikit lebih
berkembang.
Saat sel-sel manusia yang tepat diinjeksikan ke
embrio-embrio babi, embrio mampu bertahan. Kemudian tim meletakkan
embrio tersebut pada babi dewasa, yang mengandungnya selama tiga-empat
minggu sebelum embrio-embrio tersebut dikeluarkan dan dianalisis.
Secara keseluruhan, tim ilmuwan berhasil membuat 186 embrio chimera
pada tahapan lanjut. “Kami memperkirakan masing-masing memiliki satu
hingga 100.000 sel-sel manusia,” kata Wu.
“Presentase itu rendah,
dan dapat menimbulkan masalah pada metode ini dalam jangka panjang,”
kata Ke Cheng, ahli sel induk di University of North Carolina.
Cheng
mencatat, jaringan manusia tampaknya memperlambat pertumbuhan embrio,
dan organ yang tumbuh dari embrio semacam itu, kemungkinan besar akan
ditolak oleh tubuh manusia, karena mengandung terlalu banyak jaringan
babi.
Butuh proses bertahun-tahun untuk membuat organ manusia yang dapat berfungsi.
Langkah
besar selanjutnya, kata Cheng, yaitu mencari tahu apakah mungkin
meningkatkan jumlah sel-sel manusia hingga batas maksimal yang dapat
ditoleransi embrio. Metode saat ini adalah langkah awal, tetapi masih
belum jelas apakah rintangan tersebut dapat diatasi.
Belmonte
sepakat dengan pernyataan Cheng. Ia mencatat bahwa butuh proses
bertahun-tahun untuk membuat organ manusia yang dapat berfungsi. Teknik
ini bisa dimanfaatkan lebih cepat sebagai cara untuk mempelajari
perkembangan embrio manusia dan memahami penyakit.
Meskipun masih
berada pada tahap awal, Cheng menyebut studi ini sebagai terobosan. “Ada
langkah-langkah lain yang harus diambil,” ia mengakui, “tetapi ini
menarik. Sangat menarik,” pungkasnya.
(Lutfi Fauziah. Sumber: Erin Blakemore/National Geographic)

0 comments:
Post a Comment