Pembuluh darah yang diperiksa dalam 3D memungkinkan para ilmuwan untuk meneliti sirkulasi di dalam otak dan memberikan pemahaman lebih jelas.
Pembuluh darah buatan menggunakan konstruksi hidrogel yang menggabungkan kemajuan teknologi bioprinting 3D dan biomaterial. (Image courtesy Khademhosseini Lab.)
Para
peneliti dari University of Surrey dan Federal University of Sao Paulo,
mengembangkan sebuah inovasi teknik pemeriksaan dan pengukuran pembuluh
darah yang ada di dalam otak menggunakan prosedur Analisa Gambar 3D
(Stereology).
Hasil studi yang diterbitkan dalam Journal of Anatomy ini
memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada para ilmuwan bagaimana
demensia atau kepikunan, kanker otak dan stroke dapat memengaruhi
pembuluh darah dan kapiler.
Sebelumnya, para ilmuwan tidak
dapat mempelajari detil pembuluh darah yang dapat membuka rahasia
sirkulasi dan bagaimana penyakit terbentuk di otak. Berkat teknik ini, ilmuwan dapat mengidentifikasi tanda-tanda peringatan dini dari penyakit, membantu menyelamatkan nyawa pasien.
Dengan
menggunakan model hewan percobaan, teknik ini akan memungkinkan para
ilmuwan untuk mempelajari bagaimana penyakit berkembang di otak dan
membantu mereka mengidentifikasikannya melalui pemeriksaan pembuluh
darah, serta tanda-tanda peringatan atas potensi penyakit sebelum
gejalanya muncul.
Pembelajaran ini berpotensi diterapkan pada
manusia dan membantu mengurangi angka kematian akibat penyakit-penyakit
tersebut. Prosedurnya dapat juga digunakan dalam melakukan otopsi dan
pemeriksaan biopsi jaringan hewan dan manusia, sehingga
memudahkan ahli patalogi untuk menentukan penyebab kematian dan dengan
cepat mengidentifikasi perubahan dalam sirkulasi otak (seperti gumpalan)
atau tumor.
Teknik ekonomis yang dilakukan dengan cara melarutkan
Tinta India dengan gelatin ini menciptakan solusi untuk membuat
pembuluh darah terlihat lebih jelas dengan menggunakan mikroskop
konfokal. Hal ini memungkinkan para ilmuwan dan ahli patologi membuat
pembacaan akurat dari jumlah, panjang, luas pemukaan pembuluh darah.
Selain itu, para ilmuwan juga dapat membuat gambar 3D yang membantu
mengidentifikasi perubahan bentuk dan ukuran pembuluh darah, indikator
penting dari sejumlah penyakit yang berhubungan dengan sirkulasi otak.
Metode
inovatif ini juga akan memudahkan pemahaman yang lebih besar tentang
bagaimana berolahraga dapat mempengaruhi otak. Para ilmuwan saat ini
akan mampu memeriksa efek peredaran darah saat detak jantung menguat
atau melemah, tekanan arteri pada otak dan penciptaan pembuluh baru
(angiogenesis).
Salah satu penulis penelitian, Augusto Coppi dari
University of Surrey mengatakan bahwa otak merupakan organ yang menarik,
namun pemahaman para ahli mengenai sirkulasinya minim.
"Sebelumnya
kami belum mampu untuk sepenuhnya membuat sampel dan melakukan
perhitungan sirkulasi otak dalam bentuk 3D. Sebab kami tidak dapat
melihat seluruh pembuluh dengan mudah dikarenakan ukurannya yang sangat
kecil dan terkadang lantaran penyebaran spasial mereka yang tidak
beraturan," tuturnya.
Coppi melanjutkan, teknik baru ini akan
memungkinkan para ahli untuk membuat sampel, menggambar dan menghitung
pembuluh darah dalam bentuk 3D. "Pada gilirannya, teknik ini akan
memberikan pemahaman mekanistik yang lebih besar tentang bagaimana
sirkulasi kerja otak dan bagaimana penyakit otak seperti demensia dan
stroke memengaruhi organ ini."
(Duta Yanuar Fauzan. Sumber: University of Surrey/EurekAlert)
0 comments:
Post a Comment